MOMENTUM INDICATOR

Jika anda sudah mengerti tentang tren dan moving average, mari kita bahas salah satu oscillator paling klasik yang digunakan untuk memprediksi kekuatan dari sebuah tren, yakni momentum. Sebelum membahas tentang momentum, mari kita bahas dulu tentang oscillator. Sebenarnya oscillator ini hanya jargon atau istilah saja untuk tiap-tiap indikator dalam analisis teknikal yang mampu menunjukkan overbought (zona jenuh untuk meneruskan tren bullish) atau oversold (zona jenuh untuk meneruskan tren bearish). Apakah anda pernah memantulkan sebuah kelereng ke lantai? Pasti kelereng tersebut akan segera memantul ke atas kan… Jika anda perhatikan pantulan kedua dan seterusnya pasti akan lebih rendah tingginya dari pantulan yang terdahulu dan lama kelamaan kelereng tersebut akan berhenti memantul dan diam di lantai. Seperti itulah kira-kira sebuah tren harga bergerak. Pertama-tama tren akan ngebut seperti roket kemudian lambat laun laju dari tren tersebut lama kelamaan akan terhenti sampai tren tersebut berbalik arah. Untuk itulah kira-kira oscillator ini digunakan. Apakah sebuah tren sudah masuk dalam zona jenuh atau tidak, jika sudah masuk dalam zona jenuh maka umumnya tren akan melambat. Ingat, melambat bukan artinya berganti arah!
Untuk lebih jelasnya mari kita bahas saja langsung momentumnya. Momentum ini adalah salah satu oscillator tertua yang pernah ditemukan. Caranya sangat simpel, yakni hanya mengurangkan harga suatu saham hari ini dengan harga saham yang sama pada hari beberapa hari sebelumnya. Jadi maksudnya jika anda menuliskan momentum 14 hari untuk saham BBCA, maka cara menghitungnya adalah dengan menurangkan harga saham BBCA hari ini dengan harga saham BBCA pada 14 hari yang lalu. Mudah kan… Jika anda menggunakan Metastock, maka indikator ini akan bernama ROC (Rate of Change). ROC ini dapat disajikan dalam bentuk angka yang sebenarnya atau dalam persentase. Silakan pilih yang mana yang anda suka. Anda akan jumpai juga dalam MEtastock anda indikator yang bernama Momentum. Jangan bingung, indikator ini sama saja dengan ROC tadi, tapi disajikan dalam bentuk rasio. Saya sendiri suka menggunakan Momentum daripada ROC. Silakan pilih yang cocok dengan gaya anda. Buat lebih gampangnya, kita namakan saja semuanya momentum.

Berikut adalah contoh momentum :

 

Nah, saatnya menetukan zona overbought dan oversold. Bagaimana caranya? Mudah saja jika anda menggunakan porgram analisis teknikal berbayar seperti Metastock. Tapi akan sedikit repot jika anda menggunakan program gratisan seperti ChartNexus dan sebagainya. Di program analisis teknikal berbayar anda dapat melakukan back test sehingga anda dapat menentukan zona overbought dan oversoldnya. Tapi jika anda menggunakan program analisis teknikal gratisan, maka anda harus melakukannya secara manual dengan mencermati data selama beberapa tahun di chart anda untuk menggambar zona overbought dan oversold.

 
Dilihat dari cara terbentuknya, maka dapat disimpulkan bahwa oscillator ini adalah indikator yang mendahului tren atau biasa disebut trend leading indicator dimana dia dapat bereaksi sebelum tren berbalik arah. Seperti yang sudah saya katakan tadi bahwa jika oscillator anda sudah menunjukkan zona overbought dan oversold maka belum tentu tren akan berbalik arah. Dalam beberapa buku analisis teknikal, disarankan agar anda tetap menggunakan dasar-dasar tren untuk menentukan apakah tren benar-benar berbalik arah atau tidak. Dapat digunakan moving average untuk membantu anda mementunkan arah pergerakan tren.
Namun ada beberapa cara lain dalam menggunakan momentum ini sebagai alat untuk mendeteksi apakah tren akan berbalik arah atau tidak. Dalam pengamatan saya, harga akan berbalik arah jika indikator momentum ini sudah masuk dalam zona overbought dan kemudian keluar lagi. Ketika indikator ini keluar dari zona overbought-nya, saya melihat ini sebagai sinyal sell. Cara ini sagant efektif pada banyak saham di Indonesia, walaupun tidak semua. Hanya saja untuk menunjukkan sinyal buy dengan melihat apakah momentum keluar dari zona oversold, indikator ini kurang bagus. Ada baiknya sinyal buy tetap menggunakan indikator penunjuk tren sederhana seperti moving average dan sebagainya.
 
Sekarang saya akan berikan berikan tips yang sangat efektif untuk menggunakan momentum ini. Jika anda lihat, momentum ini memiliki volatilitas yang sangat tinggi. Sangat tidak sedap dipandang dan sekilas terlihat seperti rumput. Anda dapat merata-ratakan momentum anda jika anda suka atau bisa dikatakan me-moving averagekan momentum anda. Tapi sekali lagi, cara ini hanya bisa dipakai untuk program analisis teknikal berbayar. Dengan me-moving averagekan momentum anda, momentum akan lebih enak dilihat karena lebih “smooth”. Biasanya saya menggunakan moving average 3 untuk momentum saya. Berikut dapat dilihat contohnya :
 
Pada posting saya berikutnya, saya akan bahas modifikasi dari momentum. Namanya adalah MACD yak diciptakan oleh Gerald Appel. Jadi silakan ditunggu saja posting saya ya… Good Luck…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: