VOLUME

Volume : Nafas dari Market

 

Volume adalah jumlah saham yang diperdagangkan pada satu periode tertentu. Periode yang sering yang digunakan adalah satu hari. Jika volume pada 1 hari adalah 100 ribu maka artinya ada 100 ribu lembar saham yang berpindah tangan dari satu investor ke investor lainnya. Dalam Dow Theory, disebutkan bahwa volume haruslah mengikuti tren. Jika tren sedang bullish seharusnya tren volume perdagangan juga cenderung meningkat, tetapi jika market bearish maka tren volume perdagangan juga cenderung untuk turun. Teori dari Dow tersebut cukup tepat walaupun kurang terperinci. Oleh karena itu mari kita perinci lebih lanjut.
Sebelum membahas lebih banyak, untuk mempermudah mari kita bagi jenis-jenis investor ke dalam dua kelompok besar. Yakni investor yang memiliki pengetahuan tentang kondisi pasar (well informed) dan investor yang tidak mengetahui kondisi pasar (awam). Ingat jangan salah interpretasikan kedua jenis investor ini. Karena banyak orang yang menganggap bahwa investor yang well informed adalah investor institusi dan investor awam adalah investor individu. Hal ini tidak selalu terjadi begitu, karena sekalipun investor tersebut adalah investor institusi bisa saja dia melakukan kesalahan dan begitu pula sebaliknya. Hanya saja memang para investor awam ini kebanyakan adalah investor individu karena akses mereka terhadap informasi sangat terbatas.
Setelah kita membagi investor dalam kelompok besar, untuk mempermudah mempelajari volume maka mari kita membagi market dalam beberapa fase. Pada umumnya beberapa buku analisis teknikal membaginya dalam fase akumulasi, partisipasi pasar, distribusi, dan kepanikan pasar. Mari kita bahas satu-satu :
Fase Akumulasi
Pada fase akumulasi, umumnya harga bergerak sideways dan volume meningkat tapi tidak terlalu signifikan. Pada fase ini para investor yang well informed tersebut mulai melakukan pembelian terhadap suatu saham tertentu. Mereka meyakini bahwa badan usaha tersebut sedang dalam kondisi bagus untuk dikoleksi sahamnya.
Fase Partisipasi Pasar
Setelah cukup lama melalui fase akumulasi, maka fase berikutnya adalah fase partisipasi pasar. Fase ini merupakan tahap dimana para investor yang tidak masuk dalam dua kategori tersebut mulai berpatisipasi dalam membeli suaut saham tertentu. Bisa saja para analis teknikal yang mendeteksi adanya pergantian tren atau investor yang membeli karena mendengar saham tersebut bagus dari teman main golf-nya. Mungkin juga banyak investor yang awam mulai membeli di sini, namun umumnya mereka tidak akan membeli dalam jumlah banyak.
Fase Distribusi
Fase ini merupakan fase dimana para investor awam mulai membeli saham dalam jumlah banyak sedangkan para investor yang well informed mulai menjual saham-sahamnya. Biasanya hal ini terjadi pada pertengahan tren bullish hingga menjelang akhir. Hal ini terjadi karena investor awam tersebut mulai serakah untuk menambah posisi dengan harapan mereka akan mendapatkan keuntungan besar. Sedangkan investor yang well informed mulai sadar bahwa saham tersebut sudah overvalued atau mereka mendapat informasi bahwa perusahaan yang mereka beli sahamnya tidak lagi bagus dan mulai menjual saham-saham mereka. Para investor yang sudah kelewat serakah mulai berpikir tidak rasional dan terus meningkatkan harga permintaannya untuk memperoleh suatu saham sehingga harga terus terkerek naik. Oleh karena itu volume menjadi sangat tinggi pada saat-saat ini. Volume tetap bertahan pada tren angka yang sangat tinggi dan mulai untuk berkurang sedikit-demi sedikit hingga akhir dari tren bullish. Distribusi ini akan terus terjadi hingga para investor yang well informed tersebut telah habis menjual seluruh sahamnya.
Fase Kepanikan Pasar
Setelah tidak ada lagi orang yang meminta lagi di pasar, beberapa investor mulai sadar karena mendapat informasi dari para broker mereka atau dari teman main golf-nya bahwa saham ini sudah tidak lagi bagus. Mungkin saja karena perusahaan tersebut sedang terlibat masalah atau penjualannya diprediksi turun drastis dan sebagainya. Mereka mulai berlomba-lomba menjual saham mereka karena takut keuntungan yang sudah dirasakan akan tergerus. Mereka mulai menawarkan saham mereka murah-murah agar cepat laku terjual dan akhirnya harga terus turun. Para investor awam yang terlanjur serakah, bermaksud untuk menambah posisi mereka karena mereka melihat bahwa harga sedang murah. Pada fase inilah saham-saham sepenuhnya berpindah ke investor awam. Pada fenomena ini juga, volume akan tinggi karena banyak sekali perpindahan saham.
Setelah berakhirnya fase kepanikan pasar ini, market akan mulai bearish trennya. Volume akan sangat kecil pada fase ini, karena mayoritas saham sudah berpindah ke investor awam yang memang umumnya adalah para investor kecil. Permintaan suatu saham akan sangat kecil pada tahap bearish sehingga para investor awam yang kebanyakan adalah para investor kecil ini mulai menjual saham-sahamnya murah-murah agar saham mereka laku terjual. Hal inilah yang membuat harga akan terus tergerus turun. Berakhirnya tren bearish ini akan ditandai lagi dengan dimulainya fase akumulasi dan keempat fase tersebut akan terulang lagi.
 

Dengan memahami fase-fase tersebut di atas anda akan mengerti mengapa volume suatu saham dapat bergerak naik dan turun. Mereka tidak bergerak acak sepenuhnya, tapi bergerak dalam sebuah siklus. Jika anda paham siklusnya maka akan lebih mudah bagi anda untuk memprediksi pergerakan suatu harga. Oya, fase-fase tersebut di atas akan semakin mudah dilihat pada saham-saham yang non blue chip. Jika anda mengamati saham-saham blue chip, maka jarang sekali anda dapat melihat keempat fase di atas dengan jelas. Hal ini patut dimaklumi karena perusahaan-perusahaan blue chip umumnya adalah perusahaan bagus yang terus menjaga kualitas dari performanya.
Sedikit tips dari saya. Jika anda pusing melihat volume yang naik turun tidak karuan, mengapa anda tidak menggunakan moving average saja. Dengan moving average, maka anda akan dapat dengan mudah melihat tren harga. Saya sendiri menggunakan 2 moving average, moving average panjang dengan periode 120 hari dan moving average pendek dengan periode antara 10 – 20 hari. 120 hari adalah tren selama 6 bulan, sedangkan 10 – 20 hari adalah tren selama 2 minggu sampai 1 bulan. Jika anda ingin mengetahui tren yang lebih pendek, anda dapat gunakan moving average 5 hari atau setara dengan 1 minggu. Dengan begini anda dapat melihat dengan lebih jelas tren pada volume yang sedang terjadi. Good Luck…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: